Asal mula Benteng Pendem
Benteng Pendem
terletak di wilayah dusun Kebonjati,desa Cilacap, Kecamatan Cilacap, kabupaten
Cilacap.Posisi geo-grafisnya adalah 108 49’08” BT dan 7*40’31”.Pada saat ini di
halaman dalam benteng telah dibangun beberapa fasilitas wisata seperti loket
penjualan tiket dan toilet. Sedangkan halaman luar terdapat kilang minyak milik
Pertamina di belakang benteng dan pantai wisata Teluk Penyu di sebelah
timur. Di lingkungan luar benteng juga terdapat makam
orang-orang Belanda seperti makam PH.M. Regena Berg istri JN Lagaar asisten
Residen Cilacap yang meninggal 23 Juli 1888. Juga M.Herz Asisten Residen
Cilacap yang meninggal 22Mei 1909. Benteng ini terletak berha-dapan dengan
pulau Nusakambangan yang juga terdapat sebuah benteng. Sedangkan di
daerah Karangbolong dahulu juga terdapat sebuah benteng.
Setelah tidak
digunakan oleh RPKAD Benteng Pendem dimanfaatkan oleh Pe-merintah Daerah TK II
Cilacap sebagai obyek wisata sejak tahun 1986. Suaka Peninggalan Sejarah dan
Purbakala Jawa Tengah telah memugar beberapa tempat yang rusak berat pada tahun
2002 dan 2005.
Pada umumnya
bangunan mengala-mi kerusakan karena faktor alam. Posisi yang
berada di dekat pantai dan letaknya yang di bawah permukaan tanah
beraki-bat benteng ini mudah kemasukan air pa-sang dari laut maupun air hujan.
Benteng Pendem
merupakan bangunan terbuat dari batu bata plesteran dibangun melalui beberapa
tahap. Beberapa bagian dari benteng yang masih dapat dilihat
meliputi: bangunan penjara, ruang senjata, terowongan, gudang dan dapur,
bangunan akomodasi, barak prajurit/asrama, benteng pertahanan dan pengintai,
dan parit.
Bangunan
penjara menghadap ke utara dengan jendela-jendela berteralis, dinding
Tebal dan tinggi
Tebal dan tinggi
Bentuk ruangan
senjata tidak berbeda jauh dengan bangunan penjara, karena ruang senjata berada
dalam satu komplek dengan penjara. Yang membedakan dengan penjara hanya ruang
senjata memiliki dua lantai.
Bangunan
terowongan dengan 4 pintu masuk yang mengarah pada 4 penjuru arah angin.
Sejarah
Benteng Pendem
Pembangunan
benteng ini menurut babad Banyumas dilaksanakan oleh Sunan Paku Buwono IV untuk
keperluan menghadapi bajak laut yang sering menyerang pantai. Sehingga terdapat
kemungkinan sebelum di bangun oleh Belanda dahulunya memang sudah terdapat
sebuah benteng. Pada awalnya nama benteng yang autentik tidak ditemukan,
kemudian masyarakat memberikan nama “Benteng Pendem”. Pemberian nama ini
kemungkinan karena bentang dibangun di bawah permukaan tanah. Benteng
pertahanan yang dibuat pemerintahan Belanda ini, diperkirakan
berfungsi sejak tahun 1879 dan rupanya benteng Pendem adalah pusat pertahanan
dari benteng-benteng pertahanan lainnya seperti benteng Karangbolong dan
benteng di pulau Nusakambangan. Berbagai sumber menyebutkan bahwa penggunaan
benteng oleh Belanda sampai tahun 1942 yaitu pada saat penyerahan kekuasaan
Belanda kepada Jepang. Setelah itu Benteng Pendem tidak banyak digunakan oleh
Jepang. Sampai tahun 1952-1962 dimanfaaatkan oleh pasukan RPKAD (Resimen Para
Komando Angkatan Darat) sebagai latihan pertempuran dan pendaratan laut. Baru
pada tahun 1986 Pemerintah Daerah TK II Cilacap mengembangkannya sebagai
obyek wisata budaya. Pendirian benteng ini oleh Belanda hampir bersamaan dengan
munculnya Tanam Paksa yang dicanangkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den
Bosch. Pada saat itu Cilacap memang menjadi pelabuhan penting untuk mengangkut
hasil perkebunan Tanam Paksa antara lain dari Yogyakarta dan Purworejo. Pada
masa jayanya pelabuhan Cilacap pernah menjadi saingan pelabuhan Semarang karena
Jawa Tengah selatan dan sebagian Jawa Barat selalu mengirimkan hasil buminya
melalui Cilacap. Dengan demikian kedudukan benteng ini bernilai strategis bagi
Belanda dalam mengamankan ekspor hasil perkebunan yang telah menyumbangkan dana
yang berlimpah bagi negeri Belanda. Pelabuhan Cilacap menjadi sepi karena jalan
darat di daerah pedalaman mulai dibangun baik jalan kereta api maupun untuk
kendaraan bermotor lainnya. Sehingga barang ekspor maupun impor dapat dikirim
atau didistribusikan dari dan ke pedalaman Jawa Tengah melalui pelabuhan
Semarang (BPCB Jateng).
Pada tahun 1986 dilakukan penggalian terhadap lokasi yang berada di pintu Pelabuhan Cilacap tersebut. Ternyata didalamnya terdapat ratusan ruangan yang antara lain terdiri dari kamar istirahat atau barak, benteng pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, klinik pengobatan, gudang senjata, gudang mesiu, ruang penjara, dapur, ruang perwira dan ruang peluru.
Pada tahun 1986 dilakukan penggalian terhadap lokasi yang berada di pintu Pelabuhan Cilacap tersebut. Ternyata didalamnya terdapat ratusan ruangan yang antara lain terdiri dari kamar istirahat atau barak, benteng pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, klinik pengobatan, gudang senjata, gudang mesiu, ruang penjara, dapur, ruang perwira dan ruang peluru.
Menurut
Rasino, salah seorang tokoh warga Cilacap, sebelumnya tak ada yang menyangka
jika didalam tanah gundukan yang berada tak jauh dari kilang minyak tersebut,
terdapat sebuah bangunan bersejarah. Karena konon tempat tersebut lebih dulu
dibuat bangunan, baru setelah itu ditimbun dengan tanah setebal empat meter,
sehingga bangunan tersebut tak terlihat.
Di
tempat itu pula, ratusan rakyat dan Tentara Indonesia pernah menjadi tawanan.
Pada masa pemerintahan Belanda, para tentara yang dipenjara di Benteng Pendem
banyak yang tidak kembali. Beberapa kali pasukan tentara dari Banteng Loreng,
Jawa Tengah yang mencoba memasuki Benteng Pendem selalu gagal.
Kini
Benteng Pendem yang bersebelahan obyek wisata Teluk Penyu menjadi obyek wisata
andalan di Kabupaten Cilacap. Di lokasi tersebut diperkirakan masih terdapat
bangunan lain yang masih tertimbun. Dari Benteng Pendem itu pula terdapat
terowongan yang konon berhubungan dengan gua-gua yang ada di Pulau
Nusakambangan